
Ada yang berbeda dalam peringatan tahun ini. Seluruh guru yang hadir mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara. Beragam busana adat tersebut tidak hanya menambah semarak suasana upacara, tetapi juga menjadi simbol kuat tentang keberagaman Indonesia yang tetap dipersatukan oleh semangat persatuan dan kecintaan terhadap tanah air.
Upacara yang berlangsung khidmat di Lapangan Utama Pondok Pesantren Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan tersebut diikuti oleh pengurus yayasan, seluruh guru dan dosen di bawah naungan Yayasan Makrifatul Ilmi, serta para santri dari jenjang MI, MTs, MA dan mahasiswa STIT Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan.
Bertindak sebagai pembina upacara, Pimpinan Pondok Pesantren Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, Dr. KH. Abdullah Munir, M. Pd. Dalam amanatnya, beliau mengajak seluruh peserta, khususnya para guru dan santri, untuk memaknai kemerdekaan secara lebih mendalam dan menjadikannya sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas diri.
Menurut beliau, kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah yang diberikan oleh penjajah, melainkan hasil dari perjuangan panjang yang dibangun dengan pengorbanan harta, darah, air mata, tenaga, pikiran, serta doa tulus para pejuang dan seluruh rakyat Indonesia.
Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan tersebut dengan karya nyata.
“Kalau para pahlawan dahulu berjuang merebut kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raga, maka tugas kita hari ini adalah mengisi kemerdekaan dengan belajar, berkarya dan memberikan manfaat bagi bangsa,” pesan beliau dalam amanatnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa perjuangan generasi muda saat ini memiliki bentuk yang berbeda. Kemerdekaan harus dimaknai sebagai upaya untuk membebaskan diri dari berbagai bentuk keterbelakangan.
“Jadilah generasi yang merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemalasan, dan merdeka dari kefakiran. Kemerdekaan harus melahirkan manusia yang berilmu, berdaya, mandiri dan bermanfaat bagi sesama,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. KH. Abdullah Munir juga menekankan pentingnya penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam (KBC) dunia pendidikan. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga harus mampu melahirkan generasi yang memiliki akhlak, karakter dan kepedulian terhadap orang lain.
Pendidikan berbasis cinta, lanjutnya, harus diwujudkan melalui keteladanan dan hubungan yang harmonis antara guru dan peserta didik. Guru tidak hanya hadir sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing dan teladan bagi para santri.
“Yang muda menghormati yang lebih tua, dan yang lebih tua menyayangi yang muda. Dengan saling menghormati, menyayangi dan memberikan keteladanan, kita akan membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mulia dalam akhlak,” pesannya.
Sementara itu, Kepala MTs Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan, Dr. Ahmad Hifdzil Haq, M. Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang melibatkan seluruh keluarga besar Yayasan Makrifatul Ilmi.
Ia menilai kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali rasa nasionalisme, mempererat kebersamaan, serta membangun semangat persatuan di lingkungan pendidikan.
Dr. Ahmad Hifdzil Haq juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru dan keluarga besar MTs Makrifatul Ilmi yang telah berpartisipasi dengan penuh antusias dalam menyukseskan rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan, khususnya dengan mengenakan busana adat Nusantara.
Menurutnya, keberagaman pakaian adat yang dikenakan para guru merupakan gambaran bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk saling mengenal, menghargai dan mempererat persaudaraan.
“Keberagaman yang kita tampilkan hari ini adalah bagian dari wajah Indonesia. Kita boleh berbeda suku, budaya dan pakaian adat, tetapi kita tetap satu dalam kecintaan kepada Indonesia,” ungkapnya.
Nuansa keberagaman semakin terasa sepanjang pelaksanaan upacara. Para guru tampil dengan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari pakaian adat Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Papua hingga daerah lainnya. Keunikan dan keindahan busana yang dikenakan menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menyampaikan pesan bahwa Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan partisipasi para guru, pada akhir kegiatan diumumkan peserta dengan busana adat terbaik. Guru yang memperoleh predikat tersebut mendapatkan voucher belanja dari Yayasan Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi dan semangat dalam memeriahkan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Kegiatan tersebut pun menjadi momentum yang tidak hanya memperingati perjalanan panjang kemerdekaan bangsa, tetapi juga memperkuat ikatan kebersamaan seluruh keluarga besar Yayasan Makrifatul Ilmi Bengkulu Selatan.
Dari lapangan upacara, semangat kemerdekaan kembali diteguhkan: berbeda dalam budaya, bersatu dalam cita-cita; berbeda dalam pakaian, tetapi satu dalam cinta kepada Indonesia.
(Kaka’/Vin)